Example floating
Example floating
Kata Publik

Menagih Janji Tut Wuri Handayani

199
×

Menagih Janji Tut Wuri Handayani

Sebarkan artikel ini
Gambar: Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar pada ruang kelas sekolah dasar.
Example floating

Transformasi Pendidikan Dimulai Dari Cara Memperlakukan Anak

Pendidikan dasar tidak boleh diukur hanya dari banyaknya halaman yang ditulis, jumlah soal yang diselesaikan, atau seberapa cepat siswa mematuhi perintah. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah anak memahami apa yang dipelajari, mampu menggunakan pengetahuannya, berani bertanya, sanggup memperbaiki kesalahan, serta berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Guru memiliki peran penting dalam proses tersebut. Guru bukan sekadar penyampai materi atau pengawas kepatuhan. Guru adalah fasilitator, motivator, pembimbing, dan teladan. Kewenangan guru harus dihormati, tetapi kewenangan tersebut harus dijalankan bersama tanggung jawab profesional dan kewajiban melindungi peserta didik.

Pemberian PR yang berlebihan, hukuman menulis pengakuan hingga lebih dari lima lembar, dan kewajiban menyalin soal secara berulang perlu dievaluasi berdasarkan tujuan pembelajaran, proporsionalitas, kondisi siswa, serta ketentuan perlindungan anak.

Tidak semua tugas tambahan merupakan kesalahan. Tidak semua bentuk disiplin merupakan kekerasan. Namun, setiap praktik pendidikan harus dapat menjawab pertanyaan: apakah tindakan ini benar-benar membantu anak untuk tumbuh? Di situlah makna Tut Wuri Handayani menemukan relevansinya.

Sudah saatnya kita mengembalikan ruh Tut Wuri Handayani ke dalam ruang-ruang kelas: memanusiakan hubungan antara guru dan murid, menegakkan etika profesionalitas berlandaskan hukum, serta menjamin bahwa sekolah adalah rumah aman yang menyemaikan kebahagiaan belajar bagi setiap anak Indonesia.

Pendidikan bukan tentang seberapa kuat guru mengendalikan murid, melainkan seberapa baik guru membantu murid kelak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Anak tidak membutuhkan sekolah yang sekadar membuatnya takut melakukan kesalahan. Anak membutuhkan sekolah yang mengajarinya memahami kesalahan, memperbaikinya, dan terus berkembang.

Transformasi pendidikan harus dimulai dari ruang kelas: dari cara guru merancang tugas, memberikan koreksi, mengelola disiplin, dan memperlakukan setiap anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Sebab, ketika pendidikan kehilangan kemanusiaannya, sebanyak apa pun tugas yang diselesaikan tidak akan cukup untuk membuktikan bahwa proses belajar telah berhasil.