Ketika Silabus Dan RPP Kehilangan Fungsi Pedagogis
Pemberian pekerjaan rumah secara berlebihan perlu dilihat bukan hanya sebagai persoalan perilaku guru, melainkan juga sebagai kemungkinan masalah dalam perencanaan pembelajaran.
Ini penting ditegaskan bahwa kesimpulan mengenai kegagalan administrasi guru tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan satu kasus tanpa memeriksa dokumen perencanaan, tujuan tugas, karakteristik kelas, dan konteks pelaksanaannya. Meski demikian, pola yang digambarkan dapat menjadi tanda bahwa perencanaan pembelajaran perlu dievaluasi.
Dalam sistem perencanaan pembelajaran, silabus atau dokumen sejenisnya berfungsi memberikan arah mengenai kompetensi, materi, kegiatan pembelajaran, dan penilaian.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP—serta bentuk perencanaan pembelajaran yang berlaku sesuai kurikulum dan kebijakan yang digunakan sekolah—seharusnya menerjemahkan arah tersebut menjadi kegiatan yang realistis.
Apakah perencanaan pembelajaran tersebut sudah menjawab beberapa pertanyaan seperti: Apa yang harus dipahami siswa?, Keterampilan apa yang harus dikuasai?, Berapa waktu yang tersedia?, Metode apa yang paling sesuai?, Bagaimana guru mengetahui bahwa siswa telah memahami materi? Dan apa yang dilakukan apabila sebagian siswa belum mencapai tujuan?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dijawab secara cermat, guru dapat terjebak pada kesalahan klasik: menganggap semua materi harus diselesaikan, meskipun waktu dan kemampuan siswa tidak memadai.
Guru mungkin menetapkan terlalu banyak tujuan pembelajaran dalam satu pertemuan. Akibatnya, penjelasan materi menjadi terburu-buru. Diskusi dikurangi. Latihan di kelas tidak cukup. Kesempatan siswa bertanya menjadi terbatas. Sisa pekerjaan kemudian dialihkan menjadi pekerjaan rumah. Dalam keadaan seperti ini, PR bukan lagi sarana penguatan pembelajaran, melainkan kompensasi atas perencanaan waktu yang tidak realistis. Padahal, apabila sebuah konsep memerlukan beberapa pertemuan, pemecahan materi menjadi tahapan yang lebih kecil dapat lebih efektif daripada memaksakan seluruh materi selesai dalam satu waktu.
Apabila sebagian besar waktu terserap oleh kegiatan administratif, instruksi yang panjang, atau metode yang kurang efisien, maka kesempatan siswa untuk berlatih dan memperoleh umpan balik dapat berkurang. Guru kemudian mungkin memberikan tugas tambahan agar target materi tetap tercapai. Namun, penambahan tugas tidak selalu menyelesaikan masalah. Jika siswa belum memahami konsep di kelas, pekerjaan rumah yang lebih banyak justru dapat memperbesar kesulitan.
Latihan memang penting. Anak membutuhkan pengulangan untuk membangun keterampilan. Namun, pengulangan yang efektif harus memiliki tujuan.
Menyalin soal dari buku cetak ke buku jawaban dapat bermanfaat dalam situasi tertentu. Misalnya, ketika siswa perlu melatih keterampilan menulis, mempelajari struktur pertanyaan, atau bekerja dengan bahan yang tidak tersedia secara memadai. Tetapi jika siswa sudah memiliki buku cetak dan hanya diwajibkan menyalin seluruh soal sebelum menjawab, guru perlu menjelaskan nilai tambah kegiatan tersebut.
Apakah penyalinan itu membantu siswa memahami materi? Apakah kegiatan tersebut melatih keterampilan tertentu? Atau hanya menambah jumlah tulisan yang harus diselesaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena aktivitas yang terlihat sibuk belum tentu menghasilkan pembelajaran yang mendalam.
Siswa yang tidak menyelesaikan PR dapat memiliki berbagai alasan seperti: belum memahami materi, tidak mampu mengatur waktu, mengalami kelelahan, memiliki tanggung jawab keluarga, menghadapi kendala akses terhadap sumber belajar, mengalami kesulitan belajar tertentu, dan kurang memperoleh pendampingan yang sesuai.
Tentu, tidak semua alasan tersebut membenarkan siswa mengabaikan tanggung jawab. Namun, guru perlu mengetahui penyebabnya sebelum menentukan tindakan. Jangan hukuman menggantikan evaluasi pedagogis.
Hukuman menulis pengakuan lebih dari lima lembar tidak secara otomatis menyelesaikan akar persoalan. Jika siswa belum memahami materi, hukuman tidak menggantikan penjelasan. Jika siswa mengalami kesulitan mengatur waktu, hukuman tidak secara otomatis mengajarkan keterampilan manajemen waktu. Jika beban tugas memang terlalu berat, hukuman justru dapat memperbesar ketidakadilan.
Disinilah peran penting sekolah, sekolah perlu memeriksa tujuan setiap pekerjaan rumah, jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya, kesesuaian tugas dengan usia dan kemampuan siswa, hubungan tugas dengan tujuan pembelajaran, frekuensi pemberian tugas dari berbagai mata pelajaran, bentuk umpan balik yang diberikan guru, dampak tugas dan hukuman terhadap kondisi siswa, dan kesesuaian tindakan guru dengan kebijakan perlindungan peserta didik.
Evaluasi ini bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memperbaiki sistem. Sebab, guru yang tidak memiliki perencanaan realistis dapat membebani siswa. Namun, guru juga perlu memperoleh dukungan profesional agar mampu memperbaiki praktiknya.
Selanjutnya…
















