Example floating
Example floating
Kata Publik

Menagih Janji Tut Wuri Handayani

196
×

Menagih Janji Tut Wuri Handayani

Sebarkan artikel ini
Gambar: Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar pada ruang kelas sekolah dasar.
Example floating

Simulasi Sistem Pembelajaran Dan Target Capaian Siswa

Mari kita bayangkan dua ruang kelas.

Di ruang kelas pertama, guru menyapa siswa, kemudian guru memberikan tugas dan berlalu dari ruang kelas untuk melakukan pekerjaan positif lainnya seperti berswafoto di ruang guru, bercengkrama dengan guru lainnya, atau “membantu” mengangkat dan membagikan omprengan MBG. Sementara dalam kelas, siswa menerima sejumlah besar pekerjaan rumah. Siswa yang tidak menyelesaikan tugas diwajibkan menulis pernyataan pengakuan berulang-ulang. Pada akhirnya, siswa mungkin menjadi terampil dalam menyalin, tetapi belum tentu terampil dalam berpikir.

Di ruang kelas kedua, guru memulai pelajaran dengan pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Siswa mengamati, berdiskusi, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki jawabannya. Guru memberikan tugas yang terukur, kemudian membahas kesulitan siswa pada pertemuan berikutnya.

Kedua kelas tersebut sama-sama memiliki guru, buku, dan materi pelajaran. Namun, pengalaman belajar yang dibangun sangat berbeda.

Pada ruang kelas pertama, guru memiliki metode revolusioner untuk mencetak generasi mesin fotokopi, bukan generasi pemikir. Sedangkan pada ruang kelas kedua sangat aneh, siswa diajak berpikir dan kesalahan dianggap sebagai cara belajar, jelas ini bukan standar sekolah konvensional, yang kepala sekolahnya sibuk memikirkan Dana BOS belum lagi klarifikasi terhadap oknum-oknum LSM.

Lantas bagaimana pembelajaran ideal di sekolah jika guru lupa semboyan Tut Wuri Handayani dan kepala sekolahnya sibuk memikirkan dana BOS dan klarifikasi terhadap oknum-oknum LSM? Tentu tidak akan pernah guru tersebut menghubungkan materi dengan pengalaman anak.

Tidak akan mungkin guru tersebut mengamati proses, memberikan pertanyaan pemantik, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan, dengan kata lain guru tidak mengeksplorasi dan berdiskusi dengan peserta didik. Yang pasti tidak ada akan pernah ada penguatan konsep, evaluasi dan refleksi.

Dan tidak akan mungkin guru memberikan tugas lanjutan yang relevan, misalnya mencari contoh pembagian benda di rumah atau mengerjakan beberapa soal untuk memperkuat konsep. Karena guru hanya semata-mata untuk memenuhi jumlah halaman, bukan untuk memperdalam pembelajaran.

Pendidikan dasar memiliki sejumlah capaian penting yang harus dikembangkan secara seimbang. Jika kita bicara aspek literasi maka target perkembangan adalah memahami bacaan, menemukan gagasan utama, menyampaikan pendapat. Dan metode pendekatan yang diperlukan adalah membaca, berdiskusi, menulis, dan memahami konteks.

Begitu juga saat kita berbicara mengenai aspek karakter, maka target perkembangannya adalah tanggung jawab, kejujuran, empati, disiplin, dan kemandirian. Dan metode pendekatannya adalah Keteladanan, pembiasaan, dialog, dan konsekuensi yang mendidik.

Jika kita membahas satu persatu dari aspek literasi, numerasi, karakter, sosial-emosional, dan motorik makat tidak semua capaian tersebut dapat diperoleh melalui penambahan jumlah tugas tertulis. Bahkan, apabila pekerjaan rumah berlebihan mengurangi waktu istirahat, bermain, bergerak, dan berinteraksi dengan keluarga, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap keseimbangannya.

Anak yang terus-menerus dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) belum tentu sedang dibentuk menjadi pribadi yang disiplin. Bisa jadi ia hanya sedang belajar menghindari hukuman.

Perbedaan antara keduanya sangat penting. Disiplin yang sehat tumbuh dari pemahaman mengenai tujuan, kebiasaan yang dibangun secara bertahap, dan kemampuan mengatur diri. Kepatuhan yang semata-mata lahir dari ketakutan cenderung bergantung pada kehadiran pihak yang menghukum.

Selanjutnya…