PANDEGLANG, Blogpublik.com – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau membuat warga di pesisir Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, panik. Sejumlah anak memilih tidak berangkat sekolah setelah warga merasakan getaran yang disertai suara dentuman sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari. Salah seorang warga Kampung Pematang, Desa Banjarmasin, Kecamatan Carita, Rizqi Baidullah mengatakan, getaran mulai dirasakan sekitar pukul 02.00 WIB. “Awalnya sekitar jam 2 malam, istri saya membangunkan karena ada getaran. Saya lihat gorden bergerak. Awalnya saya kira angin dari ventilasi,” kata Rizqi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu pagi.
Getaran tersebut masih dirasakan hingga pagi. Bahkan sekitar pukul 05.00 WIB, Rizqi melihat jendela rumahnya ikut bergetar.
Menurut dia, getaran sempat berlangsung terus-menerus selama sekitar 30 menit atau lebih. Getaran kemudian kembali dirasakan dengan intensitas lebih kuat. Sekitar pukul 07.30 WIB, warga juga mendengar suara dentuman keras yang disertai getaran. “Suaranya seperti dentuman meledak,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat warga keluar rumah dan berkumpul. Sejumlah orang tua juga memilih tidak mengizinkan anak mereka berangkat sekolah. “Anak-anak sampai tidak berani sekolah. Ada yang tidak berangkat, ada juga yang sempat berangkat kemudian pulang lagi,” kata Rizqi.
Kepanikan juga membuat sebagian warga mulai menyiapkan barang-barang penting untuk mengantisipasi kemungkinan harus meninggalkan rumah. Rizqi mengatakan sejumlah warga membawa tas berisi dokumen dan barang penting keluar rumah. “Sebagian sudah ada yang mengungsi. Mereka membawa tas dan dokumen penting keluar rumah sambil menunggu informasi dari pemerintah,” tuturnya. Namun, Rizqi menyebut belum ada arahan resmi dari pemerintah desa maupun RT setempat untuk melakukan evakuasi.
Menurut dia, warga masih mencari informasi terkait kondisi Gunung Anak Krakatau dan langkah yang harus dilakukan.
“RT juga masih bingung dan masih mencari informasi. Kami juga bingung harus mengungsi atau bagaimana,” ujarnya.
Rumah Rizqi berjarak sekitar dua kilometer dari pantai. Dia sendiri telah menyiapkan barang-barang untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Persiapan sudah ada, tetapi saya masih menunggu informasi,” kata dia. Kepanikan warga semakin terasa karena mereka masih mengingat tsunami Selat Sunda pada 2018. “Kita ada trauma tsunami 2018. Jadi trauma itu terasa lagi sekarang,” kata Rizqi.














